1

Hujan dan Bahagia

Hujan Galau dan Kenangan, bagi sebagian orang ritme hujan bisa mengantarkan kepingan kenangan yang lama kelamaan membuat rasa haru mendayu-dayu.

Bagi sebagian orang, saat hujan turun saatnya berhadapan dengan segudang masalah seperti cucian yang tak mau kering, banjir sampai wabah penyakit.

Ada pula yang menganggap hujan itu saatnya bermain, lihat saja anak-anak kecil yang berkejaran dibawah hujan tanpa rasa takut tanpa ada beban.

Hello November Rain, di sekolah dulu kalau bulan yang ada -Er nya, itu menandakan bulan itu bulan hujan.

1512687_10201088681207123_868246607_n.jpg

Picture by Chi; ayunan dan Hujan

Beberapa waktu lalu sebelum hujan, bencana kabut asap melanda sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk kotaku Padang. Langit memutih, matahari enggan menampakkan diri. Sesak napas ini rasanya, setiap bepergian mesti memakan masker, apa lagi bagi aku yang sedang hamil tentu cemas asap beracun akan mempengaruhi calon bayi dalam kandungan. Namun syukurlah akhirnya di November, Tuhan menurunkan hujan yang banyak.

12065517_10204877319880722_4381633458350835498_n.jpg

Picture; Halaman depan koran Nasional saat asap melanda.

Lalu hujan bagiku??

Hujan ia titik-titik bahagia

Dingin yang mendatangkan kehangatan

Saatnya merayakan cinta

Bersama kekasih pujaan..

Lihat saja dua cangkir teh di atas meja

yang menjadi saksinya

saat berbicara tentang masa depan kita

msambil memandangi hujan dari sudut beranda…

🙂 menikmati hujan dengan rasa syukur, meski dengan sejuta tapi aku yakin akan mendatangkan bahagia, entah itu ada kenangan yang sekelebt datang, banjir yang mengancam. Tak perlu resah, bebaskan hati menikmati serupa anak kecil yang selalu bahagia, tertawa di bawah hujan.

 

“Tulisan ini diikutsertakan Giveaway November Rain”

https://keinatralala.wordpress.com/2015/11/06/keina-tralala-second-birthday-giveaway/

Keina Tralala Second Birthday Giveaway

4

Icip2 Chocodot, Coklat Gaul dari Garut

Nyaaaam….. Namanya rezeki, Alhamdulillah bisa icip2 si Chocodot. Udah lama banget pengen icip. Sampai kesempatan itu datang. Ini penampakannya ^^,

image

Terima kasih buat mas @taufiqfirdausaa yang beberapa waktu lalu ngadain GiveAway dan aku terpilih sebagai pemenang ke2 \(^_^)/ Horee…….

Hadiahnya aku dapat 3 Macam Coklat,.

Pertama 

image

Chocodot edisi Talaga Bodas.. terbuat dari coklat putih yang rasanya susu banget, gak terlalu manis jadi pas dimulut. Kejutannya didalamnya ada potongan dodol.

image

Mengutip blog mas Taufiq kalau dodol itu gak menggemukkan lho…
Yang mau main2 ke blgnya silahkan mampir ke sini》 http://taufiqfirdausalghifariatmadja.blogspot.in/ blognya informatif sekali, banyak membahas info gizi dan makanan yang baik buat kesehatan.
Bagi pecinta chocolat, jangan khawatir makan chocodot jadi gemuk…

image

Gak cuma Halal, Depkes dan expired date juga kandungan komposisi yang lengkap di bungkus belakangnya ada cerita tentang Telaga Bodas. Keren kan?

Kedua dapat coklat “Tolak Miskin” unik, kreatif dan nyeleneh yang bikin!! Ini penampakannya..

image

image

Isinya coklat putih rasa susu, bulat2 kecil-kecil. Kemasannya cantik dan imut, pas dibawa jalan-jalan.

image

Yang ke3 coklat Cegah 4L4Y. Kemasan kuning mencolok dan unyuuuu..

image

image

Isinya dominan dark coklat, dalam satu kemasan terbagi dua macam. Coklat hitam yang rasanya agak pait, menonjolkan originalitas coklat hitam. Dan Coklat biasa yang manisnya pas.

Secara keseluruhan, berkesan banget kemasannya. Kata mamaku “baca doa dlu sebelum makan, mudah-mudahan nolak miskin”.
Kalau rasa, jujur selain coklat telaga bodas yang dodolnya empuk…rasanya biasa aja(enak tapi gak pakai spesial) unggulnya dikemasan.
Rasanya pengen coba varian lain Chocodot, semoga dapat Gratisan lagi, hehehe…. :p

0

Surat Untuk Bapakku

Bapakku Tersayang….

Hati ini terbelit rindu
bila saja aku mampu memotong jarak
agar selalu dekat dan erat bersamamu
aku benci kehilangan waktu…

Taukah Engkau, aku ingin seperti dahulu. Saat aku masih dalam gendonganmu, menggelayut manja dalam pelukanmu. Bapak, setiap kali engkau pulang kerja, dan aku menantikan kepulanganmu. Melihatmu adalah kebahagiaan besar untukku.

Dengan kehadiranmu, aku menjadi;

Anak-anak pagi, yang…
berlari menyongsong sang mentari
Degan semangat membuncah di hati

Anak-anak pagi, yang…
Tak pernah berhenti langkahkan kaki
walau hari terlihat tak pasti

Bapak, taukah Engkau, darimu lah anakmu ini belajar menjadi berani. Berani untuk menghadapi dunia. Menghadapi siapa saja.Bapak dengan cinta darimu aku mengerti; Pun cinta itu sederhana, ia adalah sumber kekuatan yang mampu menggerakkan atau melumpuhkan kehidupan. Saat kau kehilangan, kau kehilangan kebahagiaan, dan saat kembali menemukan disana ada titik harapan.

Dari jauh ku yakin kau mengingatku
dalam tiap untaian do’amu
seperti aku pun mencoba begitu
jangan pernah berhenti, aku butuh itu

Jalanku baru akan ku retas
dalam lebih dan kurang sebagai batas
tetapi aku tak akan menyerah sampai tuntas
agar semua beban di pundakmu ayah bisa lepas…

Bapak, sebait sajak rindu ini untukmu, dari aku yang sering kali malu-malu. Menunjukkan rasa cintaku.

”Bulir rindu tak pernah mengering
biarpun panas menyerap segala yang ku punya
Dehidrasi bukan untuk membunuh cintaku
meski kelak ku mati dan kembali pada bumi
sudah ku katakan pada udara
agar ia mau mendengar ”

Bapak, Terima kasih banyak…..

Tuhan mengirimmu
tak hanya untuk jadi imam ibuku
yang menjaganya dengan segenap waktu

Tuhan memilihmu
dengan segenap penciptaanku
dalam darahku ada bagian tubuhmu
melekatkanku sebagai anakmu

ayah, mungkin aku tak pernah menyeka peluhmu
tak mengerti tetang penatmu
bukan keluh, selalu kau sembunyikan
demi memberi kebahagiaan

duhai cahaya keluarga
yang matanya selalu penuh cinta
saat jarak sedang menguji kita
ku tetap bisa merasa hadirmu ada

ayah, bukanlah air mata
membasahi rindu yg meraja
bulir-bulir do’a
ku pinta untukmu syorga

ayah, sampai nanti
engkau yang menikahkan
kau titipkanku pada seorang lelaki
yang bisa membawa kebahagiaan

aku tetap anak perempuan kecilmu
yang akan mencintaimu.

Sampai kapanpun itu……………………………………………………

 

with love,

 

chi

 

 

 

9

Prompt #47: CERMIN

Sudah lama aku mengetahui dia ada.
Tapi aku tiada bergeming.
Saat mata-mata itu menoleh padanya, aku seperti berkacamata kuda.
Lurus tapi tetap kabur.
Lama lalu gelap, terpejam untuk mengusir air mata.
Pernah kulalui saat aku begitu dekat dengannya, sekaligus begitu jauh.

Gadis itu menatapku dengan mata bulatnya yang sempurna. Mata yang di sana aku menemukan ada telaga yang mengundang aku melepaskan semua dahaga. Sejurus senyumnya, di bibir yang merekah merah mengambang penuh misteri untuk memanggilku, cinta..cinta..

Keperduliannya ketika aku diabaikan.
Tak kukira dia selalu muncul disaat yang tepat.
Aku dan hatiku memikirkan dia, menginginkannya.
Aku tau hanya untaian keajaiban dibutuhkan untuk menggetarkan hatinya.
Bila dia masih sendiri tentu aku berhak jatuh cinta padanya.
Belum ada yang mampu tepiskan walau cuma bayangannya.

“Nak, kau melamun lagi”, suara ibu membuyarkan khayalanku tentang gadis itu. Ibu, dengan jari-jari yang kulitnya mulai keriput membelai lembut puncak kepalaku.

“Temani ibu ke supermarket sebentar ya”, dengan senyum tulusnya ibu mengajakku kembali pada dunia nyata.

“Baik, Bu..”

“Cukup untuk hari ini sayang”, bisikku pada udara.

Selepas isya, aku kembali terpaku sendiri. Kali ini di samping jendela, terpana memandangi purnama yang bulat sempurna. Kemudian teringat lagi pada gadis itu. Dia, lagi.

Apakah ada dinding tak terlihat yang membatas?
Aku kini sampai di  satu titik, apa itu titik batas?
Rasanya waktu berhenti, sebatas yang ku tidak ketahui.
Ada daya dan aku pun punya keterbatasan.

Temaram lampu kamar yang remang-remang membuat hatiku semakin bergejolak. Saat dia tiba-tiba muncul di depanku. “Sempurna, kau selalu begitu”, ucapku padanya.

Tak tahan lagi, ku belai lembut wajahnya. “Tolong temani aku malam ini, sayang”, aku memohon.

Dia kemudian mengangguk, cukuplah sebagai jawaban.

“Nak, kau belum tidur?” Ibu lagi-lagi masuk tanpa permisi.

“Belum”, jawabku pendek.

Gadisku, aku teringat pada dia. Semoga saja ibu tak menyadari kehadirannya. Aku takut ibu tak suka.

“Jangan, Bu…. Jangan bawa dia.” Aku merajuk, tak rela ibu membawanya.

“Sudah malam, Nak. Tidurlah!”, ibu mencoba mengambilnya pelukanku.

Tarik menarik antara ibu dan aku tak bisa dielakkan lagi. Dia terombang ambing antara pergerumulan kami. “Ibu, ku mohon kembalikan gadisku…”

“Tidurlah, lupakan dia, dia tak nyata!”

Aku bersikukuh, ibu pun begitu, sehingga tanpa bisa dielakkan lagi.

Praaaang……….

Cermin itu hancur berkeping-keping. Gadis itu pun melenyap. TIDAK, tunggu aku menemukan sekeping. Ya, dia masih di sana, wajah yang sama denganku, dan wajah kami pun kini tersenyum bersama-sama. “Aku akan selalu mencintai diriku, sampai kapan pun.” Lalu tawaku membahana memecah kesunyian malam.

-Teruntuk orang-orang yang selalu harus mencintai dirinya sendiri-

FF pertamaku, 394 kata diluar judul.berteman-cermin

*)Ditulis untuk http://mondayflashfiction.blogspot.com/2014/04/prompt-47-sang-mariyuana.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

2

Resensi:Best Of Monday FlasFiction

Foto-036c
Author:Monday FlashFiction
Genre:Novel
Buku ini aku dapat  dari mbak sebagai Hadiah
Isinya kumpulan karya dari group https://www.facebook.com/groups/MondayFlashFiction/.
Terdiri dari FF dan Fiksi Mini. FF jenis tulisan yang tak lebih dari 500kata dan memiliki ending twist atau kejutan. Sedangkan Fiksi mini jenis tulisan yang gak lebih dari 4 kalimat dengan sebuah topik. Masih bingung, nanti saya kutipkan seperti apa Fiksi mini itu 🙂
Dari Chi…
Mulai dari FF karya mbak Lianny Hendrawati berjudul ‘Bayi’. Kalimat Pembuka: Malam itu sunyi. Hujan deras mengguyur bumi.
” Rim… di kamarnya… bersama seorang bayi…. Tapi, kelihatannya sudah…. meninggal…,” Net tergagap.-hal132
Adalah Net yang syok di tengah malam buta karena menemukan mayat bayi di kamar Rim, adiknya. Dengan panik ia menggedor pintu kamar Mbah Mis. “Bayi siapa itu Rim?”-hal 132
BadanRim mulai bergetar, menggigil. Nanar dipandanginya foto pernikahan Adi dan Dewi, foto yang diambilnya secara diam-diam. Sedetik kemudian dicoretnya foto itu dengan spidol warna merah.
Rim menutup buku hariannya dengan senyum samar.-hal 133
***
Fiksi Mini Favoritku:
VIRGIN.
Bercak merah mengagetkanku. Astaga, jariku mengambil keperawananku!
~Sulung Lahitani Mardinata
BUBUR AYAM.
Mahasiswi-mahasiswi berdesak-desakan di dalam mangkuk sarapanku.
~Mel Puspita
HUJAN DERAS.
Malaikat lupa mematikan keran.
~Ajen Angelina
2044.
“bu, hutan itu apa?”
~Harry Irfan
Sementara untu FF favoritku:
Kendi Mas Dudi karya Jiah Al Jafara
Parfum karya Ajen Angelina
Nota Jus di kedai kopi karya Sulung Latihani Mardinata
Geisha karya Ayu Citraningtias
Domenica karya RedCarra
Penasaran seperti apa cerita mereka, silahkan Hunting saja bukunya di nulisbuku.com. Pokoknya, membaca BOMFF ini sangat menyenangkan, ceritanya pendek tapi mengena. Adakalanya tema dan nama tokohnya sama, tetapi lain penulis lain pula kejutannya, dijamin seru.
Empat dari Lima bintang untuk Best Of Monday FlashFiction
pizap.com10.48882136167958381387667608390
1

ResensiNovel:Sunrise For Shaila

1483179_10200946677177111_1419320437_n

Penulis : Erie Khassandra  | 
Penerbit : Diva Press  
Code : 978602279057  
Rencana Terbit : Oktober 2013  
Jenis Cover : Soft Cover  
Halaman : 240  
Ukuran : 135 x 200 mm  
Berat : 250 gram  
Bahasa : Indonesia

Sinopsis:
Cinta pertama mengajarkan kedewasaan. Dan, cinta terakhir menyempurnakannya.

***

Antara cita-cita dan cinta, Shaila memilih cita-cita. Bahkan, bukan hanya harga diri yang ia gadaikan demi mewujudkan cita-citanya menjadi dokter, tetapi juga cinta. Ia rela dinikahi siri oleh Pak Rudi, meski tanpa cinta.

Ketika istri Pak Rudi mengetahui suaminya telah menikah siri dengan wanita lain, ia mulai mengancam Shaila. Hingga pernikahan Pak Rudi dan Shaila berujung pada perceraian. Saat itulah, Arez—pemuda yang mencintai Shaila—kembali mendekati. Namun, Shaila menolak. Ia merasa tak pantas untuk Arez. Dan, Arez pun menikah dengan wanita lain.

Karier Shaila terus melejit sebagai seorang dokter anak. Meski ia tak tahu ke mana hatinya akan berlabuh suatu saat. Jauh di lubuk hatinya, Shaila mendamba cinta. Sebuah cinta yang menghangatkan hatinya bak sunrise di pagi yang cerah.

Pasang surut kehidupan Shaila menjadi kejutan tersendiri dalam novel manis ini. Menyampaikan pesan sederhana, namun mengena, bahwa hidup adalah perjuangan. Baca dan resapi, Anda akan terinspirasi oleh pengorbanan Shaila!

Selamat membaca!

***

Dari  si Chi….

Secawan Pagi, bergetar hati. Pada matahari, Tuhan menitipkan Energi

Tweet itu lah yang membuatku memenangkan novel ini langsung dari penulisnya lewat twitter yang bekerjasama dengan akun

Terima kasih banyak sebelumnya 🙂

Sunrise For Shaila, adalah sebuah cerita perjuangan Shaila, gadis dari desa terpencil Kalimantan Selatan bernama Labungir. Sewaktu SD shaila pernah dihina, karena cita-citanya yang sangat tinggi menjadi seorang dokter. “Ih, orang miskin kayak kamu mau jadi dokter?” ledek Amrin yang duduk di belakangku.-hal 9

Kemiskinan adalah batu besar yang merintangi cita-cita mulia itu. Selepas SD, nasib baik membawa Shaila bisa melanjutkan sekolahnya di Banjarmasin. Berbekal kebaikan hati Tante Dewi, adik perempuan Abah dan Om Hasbi, suami Tante Dewi. Mereka menyayangi Shaila layaknya anak sendiri. Sampai musibah itu datang, Om Hasbi terkena PHK. Sifatnya mulai berubah menjadi kasar. “Dasar anak nggak tahu diuntung! Tukang adu, mulut ember. Kalau emang nggak suka disini silahkan angkat kaki dari rumah ini. Sekarang juga!!” teriakan Omhasbi menggema diseluruh ruang tengah.-hal 45.

Untung Bu Nur, wali kelas Shaila yang iba bersedia mengajaknya tinggal di rumah beliau. Shaila pun menyelesaikan masa SMAnya. Lagi-lagi, impian itu seperti terlalu tinggi, lewat jalur PMDK sebenarnya Shaila sudah diterima di Fakultas Kedokteran UNLAM, tetapi ia mesti membayar separuh dari uang kuliahnya diluar beasiswa. Uan dari mana? Shaila hampir mengubur mimpinya.

Kembali ke Labungir, shaila membantu Mama dan Abah menjaga warung kecil di depan rumah. Ajakan Kak Mina, anak Paman Abas teman Mama untuk mengadu nasib ke Yogyakarta membuat Shaila meragu. Yogjakarta lebih jauh dari Banjarmasin, artinya ia mesti terpisah dari keluarganya. “Nak, sejauh apa pun  kamu pergi…, selama kamu selalu mengingat rumah, jarak itu nggak bakal mengubah apa-apa.” Telunjuk Mama bergerak dari satu bintang ke bintang lain yang saling berdekatan. Membentuk salib.-hal 78

Bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran dengan gaji lima ratus ribu sebulan, sangat tidak mungkin untuk melanjutkan kuliah rasanya. Laju nasib, lagi-lagi mempermainkannya. Kak Mina yang bekerja di hotel ternyata memiliki pekerjaan sampingan, menyalurkan gadis muda sebagai wanita penghibur kelas atas. Dan, apa pun dilakukan Shaila demi menjadi seorang dokter.

“Tapi , tak ada pilihan. Aku harus menerima. Mengorbankan harga diriku”-hal 96

Novel ini penuh konflik, kalau menurutku berondongan masalah selalu menimpa Shaila. Seperti tak bosan, hidup senantiasa mengujinya. Salah seorang pelanggan Shaila bernama Pak Rudi meminta Shaila menjadi istri sirinya dengan janji memenuhi seluruh kebutuhannya. Cinta, Shaila mengorbankan rasa cintanya pada Arez, kakak angkatannya di Fakultas Kedokteran. Cinta itu pula yang hampir mengambil persahabatan Shaila dengan Sherin, karena sherin menyukai Arez. Tak cukup masalah itu saja, Shaila dan hidupnya terancam oleh istri sah pak Rudi yang mencium perselingkuhannya.

Novel ini memiliki alur campuran, flash back masa lalu shaila sebagai pembuka konflik. Bacaan ini cukup ringan. Hanya saja, konflik yang terkesan terlalu ‘ramai’, dan setiap konflik diakhir seolah ‘dipaksa berlari’ untuk secepatnya diselesaikan. Terlalu banyak kebetulan bahagia dalam penyelesaiaan masalah. Misalnya Sherin yang akhirnya menerima Alvin, juga tokoh Putri yang berjodoh dengan Raihan, padahal tadinya Raihan cinta pada Shaila. Novel ini, cukup pas sebagai bacaan saat santai, gak pake mikir membacanya meski si penulis menyelipkan istilah-istilah kedokteran di dalamnya.

Semoga, karya selanjutnya bisa lebih baik, 3 dari 5 bintang untuk novel ini.

3bintang

2

Negeri Neri~Sebuah Resensi~Dongeng Indah Masa Kini

1450123_10200763187989996_517577369_n

Pengarang: Sari Safitri Mohan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 284

Negeri Neri, buku ini kudapat dari Kuis yang diadain mbak di twitternya, terima kasih banyak mbak. Juga penulisnya yang membonuskan tas cantik dari NewYork, ya karena si mbak yang di profil twitternya menuliskan: “Former journalist & teacher. Occasional dancer. Dumpling & tea lover. Writer.New York · “, sedang berada disana. Thank you so much, Sukaaaaaaaaaa.

Baiklah, sekian saja asal usul si buku, kita masuk ke resensinya….

Pertama kita kutip dulu sinopsisnya:

“Kak, memang gimana rasanya laki-laki dan perempuan yang berpelukan dan hujan-hujanan?”

Flora seperti tersengat listrik mendengar pertanyaan Mala, adiknya yang masih enam tahun. Namun wajah si adik tampak begitu polos dan serius ingin mengetahui jawabannya.

Pertanyaan itu ternyata muncul dari dongeng yang diceritakan Ibu Bunga—wanita yang, menurut Mala, tinggal jauh di dalam hutan di belakang rumah Flora dan Mala. Dongeng tak lazim untuk anak-anak itu kemudian diceritakan Mala pada Flora, yang kemudian menuangkannya dalam bentuk cerita bersambung untuk dimuat di buletin sekolahnya, SMA Negeri 1 Sanggara.

Kisah itu menarik perhatian pembaca dan mereka selalu menantikan kelanjutannya. Namun tak ada yang menyangka kisah berjudul Negeri Neri itu bakal mengusik seorang tokoh penting di kota Sanggara dan menggemparkan warga kota kecil itu.”

*****

Dari  si Chi…

Pernahkah dalam tubuh dewasamu merindukan sebuah dongeng, cerita fantasi yang senantiasa menjadi teman akrab dimasa kecil?? Membaca Negeri Neri, serasa dibawa kembali kemasa itu, penuh dongeng dan imajinasi.

Cerita ini dimulai dengan sebuah prolog yang mencuri perhatian: ” Malam ini akan menentaskan luka. Seseosok perempuan muda tergopoh-gopoh berlari masuk ke hutan. Di belakangnya tampak orang-orang membawa obor berbondong-bondong.”-Hal 7

Adalah Mala, gadis kecil yang selalu riang dan suka bercerita. Pada suatu ketika, saat Mala sedang tak enak badan dan membuang nasinya di halaman belakang seekor anjing masuk ke pekarangan rumahnya. Seperti menuntun Mala untuk masuk ke hutan, anjing itu berjalan semakin dalam semakin jauh. Disanalah Mala bertemu ‘ibu bunga’, wanita cantik dengan daster bunga-bunga. Ibu bunga membagikan ceritanya, yang oleh mala diberi judul Negeri Neri.

Mala memiliki seorang kakak perempuan  yang hobi menulis, namanya Flora. Semua kisah Negeri Neri yang Mala dengar dari ibu bunga akan diceritakannya pada Flora. Setengah tidak percaya, sosok adik kecilnya berubah menjadi dewasa ketika bercerita. “Kak, memangnya gimana rasanya laki-laki dan perempuan yang berpelukan dan hujan-hujanan?” Flora seperti tersengat listrik seribu watt mendengar pernyataan Mala.-Hal65

Negeri Neri dimulai dari dua puluh lima tahun yang lalu, sepasang suami-isteri bernama Halim dan Arum. Halim, lelaki miskin namun pekerja keras meminang Arum yang cantik jelita. Sehari-hari Halim bekerja sebagai tukang kebun , siapa pun yang butuh jasanya membuat taman rumah menjadi indah, Harun lah jagonya. Termasuk Pak Nusa, orang terpandang di daerah mereka. Bertahun-tahun kemudian Halim dan Arum dikaruniai anak perempuan bernama Erlin. Suatu waktu, Erlin menggantikan inbunya mengantarkan bekal makan siang untuk sang ayah, disanalah takdir mempertemukan Erlin dengan Aria (anak lelaki Pak Nusa).

Cinta itu timbul pada pandangan pertama, sayangnya tidak berjalan mulus. Perbedaan strata sosial begitu kentara membentengi.

Dalam Negeri Neri Tak melulu tentang Erlin dan Aria. Terselip juga kisah Flora dan Rio, pemimpin redaksi Suluh sebuah buletin sekolah. Flora yang iseng mengirim setiap cerita Mala, yang sudah ditulis ulangnya ke Suluh. Cerita itu akhirnya diterbitkan sebagai cerita bersambung. Terpilihnya Flora mengisi Suluh membuat iri Tricia gadis manis yang manja, anak petinggi di daerah mereka. Tricia ingin bisa menulis sehebat Flora, agar bisa berdekatan dan menarik perhatian Rio. Maklum saja, Rio yang selalu bersikap dingin pada Tricia dan gadis lain di sekolahnya yang terkagum-kagum padanya.Terbitnya Negeri Neri rupanya menuai masalah lain bagi Flora, seseorang tak suka kisah itu diterbitkan. Ancaman demi ancaman datang, membuat Flora meragu untuk melanjutkan menulis Negeri Neri.

Novel ini mengambil setting kota kecil Sanggara. SaFitri Mohan dengan gaya bercerita yang sederhana namun luwes mampu membuat Negeri Neri memikat. Kita akan disuguhi alur maju-mundur-maju. Flash back masa lalu dan sebuah misteri yang ingin diungkap. Ada rasa deg..deg-an saat membacanya. Dengan ending yang tak terduga.

4 bintang dari 5, untuk Negeri Neri.

pizap.com10.48882136167958381387667608390

Kalimat-kalimat berkesan untuk dikutip:

~Biarlah dia seperti itu. Dia anak laki-laki. Biar dia coba apa pun~ Hal 5

~Apakah kau menyukai perasaan asing ini~Hal 161

~Pagi hari bunga-bunga itu akan memberimu semangat dan keceriaan. Sore hari, bunga-bunga itu siap menyimpan seluruh ceritamu seharian~ Hal 107

~Cintanya tidak akan bisa berhenti biarpun larangan kepadanya bertubi-tubi~ Hal 112

~Jangan kau lupakan aku. Jangan pernah kau hilangkan jejakmu~ Hall 285