1

Hujan dan Bahagia

Hujan Galau dan Kenangan, bagi sebagian orang ritme hujan bisa mengantarkan kepingan kenangan yang lama kelamaan membuat rasa haru mendayu-dayu.

Bagi sebagian orang, saat hujan turun saatnya berhadapan dengan segudang masalah seperti cucian yang tak mau kering, banjir sampai wabah penyakit.

Ada pula yang menganggap hujan itu saatnya bermain, lihat saja anak-anak kecil yang berkejaran dibawah hujan tanpa rasa takut tanpa ada beban.

Hello November Rain, di sekolah dulu kalau bulan yang ada -Er nya, itu menandakan bulan itu bulan hujan.

1512687_10201088681207123_868246607_n.jpg

Picture by Chi; ayunan dan Hujan

Beberapa waktu lalu sebelum hujan, bencana kabut asap melanda sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk kotaku Padang. Langit memutih, matahari enggan menampakkan diri. Sesak napas ini rasanya, setiap bepergian mesti memakan masker, apa lagi bagi aku yang sedang hamil tentu cemas asap beracun akan mempengaruhi calon bayi dalam kandungan. Namun syukurlah akhirnya di November, Tuhan menurunkan hujan yang banyak.

12065517_10204877319880722_4381633458350835498_n.jpg

Picture; Halaman depan koran Nasional saat asap melanda.

Lalu hujan bagiku??

Hujan ia titik-titik bahagia

Dingin yang mendatangkan kehangatan

Saatnya merayakan cinta

Bersama kekasih pujaan..

Lihat saja dua cangkir teh di atas meja

yang menjadi saksinya

saat berbicara tentang masa depan kita

msambil memandangi hujan dari sudut beranda…

🙂 menikmati hujan dengan rasa syukur, meski dengan sejuta tapi aku yakin akan mendatangkan bahagia, entah itu ada kenangan yang sekelebt datang, banjir yang mengancam. Tak perlu resah, bebaskan hati menikmati serupa anak kecil yang selalu bahagia, tertawa di bawah hujan.

 

“Tulisan ini diikutsertakan Giveaway November Rain”

https://keinatralala.wordpress.com/2015/11/06/keina-tralala-second-birthday-giveaway/

Keina Tralala Second Birthday Giveaway

Advertisements
2

Kelulusan, sesuatu yang aku syukuri

Lama tak menulis, mau sejenak mengenang peristiwa di 2009. Kalau ditanya tentang kelulusan, mesti bongkar-bongkar lagi memori 4 april 2009, saat kelulusan S1 Akuntansi.

image

~Malam pepasan alumni~

Kalau ditanya perasaan hari itu, pastilah teramat bahagia. Haaah… Terbayar sudah perjuangan 4,5 tahun di kampus tercinta. Meski aku menikmati masa kuliah, saat kebersamaan dengan sahabat dengan segala suka dukanya. Tetapi terselip juga keinginan untuk segera masuk ke ‘real world’ kata orang, dunia setelah kuliahlah yang sesungguhnya.
Ada sedikit rasa takut, saat resmi jadi sarjana, otomatis resmi pula menyandang predikat pengangguran, perhalus pencari kerja. Dan pertanyaan mampukah aku melewatinya?, berkecamuk di dada. Oke, sehari wisuda, nikmati dulu euforianya. Saat dimana aku dan keluarga kecil yang terdiri dari mama, bapak dan adik laki-lakiku, bisa ku boyong ke auditorium kampus untuk melihat saat berjalan ke pentas, dipanggil namanya dan disalami pak Dekan. Meskipun, kalau ditanya puas gak dengan pencapaian itu, belum. Ada rasa dimana, ada keinginan yang tak tercapai. Saat pertama masuk kuliah, aku ingin jika tamat bisa menjadi lulusan terbaik, nyatanya aku lulus dengan kategori baik saja.

image

~Bersama orang tua~

Waktu tak bisa diputar, saatnya berdamai dengan kenyataan. Bismillah, yang penting kedepannya usaha dan berdoa, toh nilai bukan segala-galanya buat dapat kerja. Yang paling berat, hingga aku mengapresiasi diri sendiri dari kekulusan itu ialah masa skripsi. Sempat mandek dan prosesnya panjang, hamper 1tahun hanya untuk menemukan judul skripsi, juga proses pengerjaan danmenyelesaikannya. Ditambah lagi, aku saat itu GALAU, karena hubungan yang baru kandas. So, kerjaannya mewek-nagis-galau, seperti rutinitas. Bahan aku sebodo dengan yang namanya  tamat kuliah. Separah itu 
Patah hati bikin dunia kelabu, gak bersemangat. Untunglah, peran sahabat di kampus yang member semangat dan gak bosan nanyain kelanjutan skripsi bikin aku sedikit demi sedikit mulai mengerjakannya.  Seorang teman cowok yang cakep, karena termasuk salah satu yang bertanya bikin aku mendadak suka sama dia, hehe. Dia pula yang bikin aku semangat, padahal dianya sendiri melakukan itu hanya menunjukkan pedulu pada teman saja, tidak lebih. Aku menjadikan dia role model, karena dia sudah selesai dengan skripsinya. Bahkan sedang sibuk mengurus persiapan wisuda.
Dia pula, yang kelak membuat aku memutuskan melangkahkan kakii ke ibu kota buat merantau. Setelah dia tamat, dia ikut tes di salah satu kantor akuntan besar di Jakarta dan lulus. Maka aku berniat ke Jakarta, pas pula momentum ikut tes CPNS di Jakarta, dan kelak disana petualangan ku dimulai.

image

Waah, udah melantur kemana-mana yah? Maaf, hihi.. Sekarang, sekian tahun kemudian, ketika sudah berada di dunia kerja dan bahkan kembali ke kota kelahiran setelah puas merantau 2tahun di Jakarta, aku menyadari sesuatu.. Hari itu, karena hari itu maka aku sampai ke aku yang saat ini. Walaupun, belum puas dengan karir /pekerjaan saat ini, hari dimana kelulusan adalah sebuah hari yang patut disyukuri. Karena dukungan orang tua, keluarga, sahabat juga kerja keras kita, hari itu tiba.  Hari dimana aku dapat membagi senyum dan kebahagiaan bagi mereka semua. Menikmati memakai toga dan kebaya. Meskipun harus rela bangun pagi-pagi buat di make up. Dan satu lagi, hari itu pertama kali kami punya foto keluarga di studio. Karena orang tuaku bukan tipe yang suka berfoto studio. Alhamdulillah ada sesuatu yang bisa dikenang sampai nanti-nanti. image