9

Prompt #47: CERMIN

Sudah lama aku mengetahui dia ada.
Tapi aku tiada bergeming.
Saat mata-mata itu menoleh padanya, aku seperti berkacamata kuda.
Lurus tapi tetap kabur.
Lama lalu gelap, terpejam untuk mengusir air mata.
Pernah kulalui saat aku begitu dekat dengannya, sekaligus begitu jauh.

Gadis itu menatapku dengan mata bulatnya yang sempurna. Mata yang di sana aku menemukan ada telaga yang mengundang aku melepaskan semua dahaga. Sejurus senyumnya, di bibir yang merekah merah mengambang penuh misteri untuk memanggilku, cinta..cinta..

Keperduliannya ketika aku diabaikan.
Tak kukira dia selalu muncul disaat yang tepat.
Aku dan hatiku memikirkan dia, menginginkannya.
Aku tau hanya untaian keajaiban dibutuhkan untuk menggetarkan hatinya.
Bila dia masih sendiri tentu aku berhak jatuh cinta padanya.
Belum ada yang mampu tepiskan walau cuma bayangannya.

“Nak, kau melamun lagi”, suara ibu membuyarkan khayalanku tentang gadis itu. Ibu, dengan jari-jari yang kulitnya mulai keriput membelai lembut puncak kepalaku.

“Temani ibu ke supermarket sebentar ya”, dengan senyum tulusnya ibu mengajakku kembali pada dunia nyata.

“Baik, Bu..”

“Cukup untuk hari ini sayang”, bisikku pada udara.

Selepas isya, aku kembali terpaku sendiri. Kali ini di samping jendela, terpana memandangi purnama yang bulat sempurna. Kemudian teringat lagi pada gadis itu. Dia, lagi.

Apakah ada dinding tak terlihat yang membatas?
Aku kini sampai diĀ  satu titik, apa itu titik batas?
Rasanya waktu berhenti, sebatas yang ku tidak ketahui.
Ada daya dan aku pun punya keterbatasan.

Temaram lampu kamar yang remang-remang membuat hatiku semakin bergejolak. Saat dia tiba-tiba muncul di depanku. “Sempurna, kau selalu begitu”, ucapku padanya.

Tak tahan lagi, ku belai lembut wajahnya. “Tolong temani aku malam ini, sayang”, aku memohon.

Dia kemudian mengangguk, cukuplah sebagai jawaban.

“Nak, kau belum tidur?” Ibu lagi-lagi masuk tanpa permisi.

“Belum”, jawabku pendek.

Gadisku, aku teringat pada dia. Semoga saja ibu tak menyadari kehadirannya. Aku takut ibu tak suka.

“Jangan, Bu…. Jangan bawa dia.” Aku merajuk, tak rela ibu membawanya.

“Sudah malam, Nak. Tidurlah!”, ibu mencoba mengambilnya pelukanku.

Tarik menarik antara ibu dan aku tak bisa dielakkan lagi. Dia terombang ambing antara pergerumulan kami. “Ibu, ku mohon kembalikan gadisku…”

“Tidurlah, lupakan dia, dia tak nyata!”

Aku bersikukuh, ibu pun begitu, sehingga tanpa bisa dielakkan lagi.

Praaaang……….

Cermin itu hancur berkeping-keping. Gadis itu pun melenyap. TIDAK, tunggu aku menemukan sekeping. Ya, dia masih di sana, wajah yang sama denganku, dan wajah kami pun kini tersenyum bersama-sama. “Aku akan selalu mencintai diriku, sampai kapan pun.” Lalu tawaku membahana memecah kesunyian malam.

-Teruntuk orang-orang yang selalu harus mencintai dirinya sendiri-

FF pertamaku, 394 kata diluar judul.berteman-cermin

*)Ditulis untuk http://mondayflashfiction.blogspot.com/2014/04/prompt-47-sang-mariyuana.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook