ResensiNovel:Sunrise For Shaila

1483179_10200946677177111_1419320437_n

Penulis : Erie Khassandra  | 
Penerbit : Diva Press  
Code : 978602279057  
Rencana Terbit : Oktober 2013  
Jenis Cover : Soft Cover  
Halaman : 240  
Ukuran : 135 x 200 mm  
Berat : 250 gram  
Bahasa : Indonesia

Sinopsis:
Cinta pertama mengajarkan kedewasaan. Dan, cinta terakhir menyempurnakannya.

***

Antara cita-cita dan cinta, Shaila memilih cita-cita. Bahkan, bukan hanya harga diri yang ia gadaikan demi mewujudkan cita-citanya menjadi dokter, tetapi juga cinta. Ia rela dinikahi siri oleh Pak Rudi, meski tanpa cinta.

Ketika istri Pak Rudi mengetahui suaminya telah menikah siri dengan wanita lain, ia mulai mengancam Shaila. Hingga pernikahan Pak Rudi dan Shaila berujung pada perceraian. Saat itulah, Arez—pemuda yang mencintai Shaila—kembali mendekati. Namun, Shaila menolak. Ia merasa tak pantas untuk Arez. Dan, Arez pun menikah dengan wanita lain.

Karier Shaila terus melejit sebagai seorang dokter anak. Meski ia tak tahu ke mana hatinya akan berlabuh suatu saat. Jauh di lubuk hatinya, Shaila mendamba cinta. Sebuah cinta yang menghangatkan hatinya bak sunrise di pagi yang cerah.

Pasang surut kehidupan Shaila menjadi kejutan tersendiri dalam novel manis ini. Menyampaikan pesan sederhana, namun mengena, bahwa hidup adalah perjuangan. Baca dan resapi, Anda akan terinspirasi oleh pengorbanan Shaila!

Selamat membaca!

***

Dari  si Chi….

Secawan Pagi, bergetar hati. Pada matahari, Tuhan menitipkan Energi

Tweet itu lah yang membuatku memenangkan novel ini langsung dari penulisnya lewat twitter yang bekerjasama dengan akun

Terima kasih banyak sebelumnya 🙂

Sunrise For Shaila, adalah sebuah cerita perjuangan Shaila, gadis dari desa terpencil Kalimantan Selatan bernama Labungir. Sewaktu SD shaila pernah dihina, karena cita-citanya yang sangat tinggi menjadi seorang dokter. “Ih, orang miskin kayak kamu mau jadi dokter?” ledek Amrin yang duduk di belakangku.-hal 9

Kemiskinan adalah batu besar yang merintangi cita-cita mulia itu. Selepas SD, nasib baik membawa Shaila bisa melanjutkan sekolahnya di Banjarmasin. Berbekal kebaikan hati Tante Dewi, adik perempuan Abah dan Om Hasbi, suami Tante Dewi. Mereka menyayangi Shaila layaknya anak sendiri. Sampai musibah itu datang, Om Hasbi terkena PHK. Sifatnya mulai berubah menjadi kasar. “Dasar anak nggak tahu diuntung! Tukang adu, mulut ember. Kalau emang nggak suka disini silahkan angkat kaki dari rumah ini. Sekarang juga!!” teriakan Omhasbi menggema diseluruh ruang tengah.-hal 45.

Untung Bu Nur, wali kelas Shaila yang iba bersedia mengajaknya tinggal di rumah beliau. Shaila pun menyelesaikan masa SMAnya. Lagi-lagi, impian itu seperti terlalu tinggi, lewat jalur PMDK sebenarnya Shaila sudah diterima di Fakultas Kedokteran UNLAM, tetapi ia mesti membayar separuh dari uang kuliahnya diluar beasiswa. Uan dari mana? Shaila hampir mengubur mimpinya.

Kembali ke Labungir, shaila membantu Mama dan Abah menjaga warung kecil di depan rumah. Ajakan Kak Mina, anak Paman Abas teman Mama untuk mengadu nasib ke Yogyakarta membuat Shaila meragu. Yogjakarta lebih jauh dari Banjarmasin, artinya ia mesti terpisah dari keluarganya. “Nak, sejauh apa pun  kamu pergi…, selama kamu selalu mengingat rumah, jarak itu nggak bakal mengubah apa-apa.” Telunjuk Mama bergerak dari satu bintang ke bintang lain yang saling berdekatan. Membentuk salib.-hal 78

Bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran dengan gaji lima ratus ribu sebulan, sangat tidak mungkin untuk melanjutkan kuliah rasanya. Laju nasib, lagi-lagi mempermainkannya. Kak Mina yang bekerja di hotel ternyata memiliki pekerjaan sampingan, menyalurkan gadis muda sebagai wanita penghibur kelas atas. Dan, apa pun dilakukan Shaila demi menjadi seorang dokter.

“Tapi , tak ada pilihan. Aku harus menerima. Mengorbankan harga diriku”-hal 96

Novel ini penuh konflik, kalau menurutku berondongan masalah selalu menimpa Shaila. Seperti tak bosan, hidup senantiasa mengujinya. Salah seorang pelanggan Shaila bernama Pak Rudi meminta Shaila menjadi istri sirinya dengan janji memenuhi seluruh kebutuhannya. Cinta, Shaila mengorbankan rasa cintanya pada Arez, kakak angkatannya di Fakultas Kedokteran. Cinta itu pula yang hampir mengambil persahabatan Shaila dengan Sherin, karena sherin menyukai Arez. Tak cukup masalah itu saja, Shaila dan hidupnya terancam oleh istri sah pak Rudi yang mencium perselingkuhannya.

Novel ini memiliki alur campuran, flash back masa lalu shaila sebagai pembuka konflik. Bacaan ini cukup ringan. Hanya saja, konflik yang terkesan terlalu ‘ramai’, dan setiap konflik diakhir seolah ‘dipaksa berlari’ untuk secepatnya diselesaikan. Terlalu banyak kebetulan bahagia dalam penyelesaiaan masalah. Misalnya Sherin yang akhirnya menerima Alvin, juga tokoh Putri yang berjodoh dengan Raihan, padahal tadinya Raihan cinta pada Shaila. Novel ini, cukup pas sebagai bacaan saat santai, gak pake mikir membacanya meski si penulis menyelipkan istilah-istilah kedokteran di dalamnya.

Semoga, karya selanjutnya bisa lebih baik, 3 dari 5 bintang untuk novel ini.

3bintang

Advertisements

One thought on “ResensiNovel:Sunrise For Shaila

  1. novelnya keren,cuma gmana kelanjutan hub,an antara arez sama shaila,,,
    tolong kasih tau yah….
    kok menggantung gtu hub.anx….
    makasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s